Kebenaran Menjanjikan Kebahagiaan

"Bagaimananakah gajah itu?" 

Ada tiga kelompok yang siap menjawab pertanyaan itu; yang pertama adalah kelompok orang-orang buta,kelompok orang-orang yang melihat tapi hanya dari sudut tertentu, dan yang ketigaadalah kelompok orang-orang yang melihat dari berbagai sudut.

Ternyata, jawabannya tidaklah sama. Perbedaan pendapat itu tidak hanya terjadi antar kelompok tapi juga antar individu dalam satu kelompok. Namun, mereka mampu menarik satu benang merah bahwa gajah adalah binatang yang berbadan besar, berhidung panjang dan bertelinga lebar. Kesimpulan ini lantas mereka yakini sebagai satu “kebenaran” (tentang gajah).

Semua orang ingin mengetahui kebenaran. Baik bagi dirinya sendiri maupun bagi kehidupan seluruhnya. Kebenaran diyakini sebagai sebuah kekuatan yang dapat memancarkan kebahagiaan. Kebenaran dan kebahagiaan ibarat dua gambar dalam satu keping uang logam. Tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Melekat, menjadi satu bagian yang berarti dan berharga.


Dari zaman batu sampai sekarang pendapat tentang “kebenaran” bermunculan bagai jamur di musim hujan. Di kalangan para filsuf, ada “kebenaran” materialisme, empirisme pragmatisme, idealisme, fenomenologi, eksistensialisme dan lain sebagainya. Atas nama langit, muncullah agama Yahudi, Islam, Kristen. Dan atas nama bumi, lahirlah agama dan kepercayaan-kepercayaan seperti Budha, Hindu, Konghucu, Animisme, Dinamisme, dan lain-lain.

Tidak menutup kemugkinan, dari berbagai “kebenaran” itu ada satu-dua hal yang sama. Namun, itu tidak berarti bahwa semua “kebenaran” adalah sama.  Karena menarik benang merah dalam hal ini, sangatlah berbeda dengan menarik benang merah dalam proses menentukan “kebenaran” tentang gajah (sebagaimana di atas), yang hanya bertujuan melegakan semua kalangan. Kebenaran hanyalah satu; yaitu Islam. Kebenaran ini terbentuk dan tersususn dari berbagai kebenaran.

Oleh karena itulah, dalam Islam ada istilah Syar’u man Qoblana yaitu seperangkat kebenaran-kebenaran di masa lalu. Sebagian ada yang masih relevan, namun ada juga yang sudah tidak sesuai dengan kondisi zaman. Sehingga mengharuskan adanya prosesnasakh dan mansukh. Namun, yang melakukan nasakh dan mansukh bukanlah manusia yang memiliki berbagai kekurangan, melainkan Allah sebagai pemilik otoritas penuh dan tunggal. Lalu di-informasikan kepada Jibril, turun pada rosul-rosul kemudian disampaikan kepada umat.

Dalam Al-Quran ada 6.236 ayat, maka itu berarti ada 6.236 kebenaran. Kebenaran ini sangat otentik, orisinal, berkualitas sangat tinggi dan tidak ada satupun yang bisa menyamainya meskipun seluruh manusia dan jin bersatu menirunya. Sebagai pelengkap kesempurnan, Al-Quran tidak jomblo, tapi mempunyai pasangan berupa Al-Hadits. Kebenaran dalam Islam begitu meyakinkan dan tak terbantahkan, maka tentu saja kebahagiaan yang dijanjikan Islam bukanlah kebahagiaan yang hanya berlaku pada satu periode saja, melainkan kebahagiaan yang integral, komprehensif dan kekal.

Lain halnya dengan filsafat, “kebenaran” yang dihasilkannya bersifat subyektif.  “Kebenaran” ini lahir dari spekulasi pemikiran yang tak berujung. Banyak sekali konsep “kebenaran” yang ditawarkannya. Dan semua konsep “kebenaran” itu lahir karena adanya kritikan atas konsep “kebenaran” sebelumnya. Jadi, para filsuf adalah orang yang “menyedihkan kebenaran” (berbeda dengan arti dasarnya bahwa filsuf adalah pecinta kebijaksanaan/”kebenaran”). Mereka tak pernah puas dengan “kebenaran” yang ada. Bahkan mereka menganggap “kebenaran” yang telah ada itu “menyedihkan”, lalu mereka terus berfikir dan berfikir kemudian lahirlah konsep “kebenaran” yang baru.  Dengan demikian, kebahagiaan yang dijanjikan filsafat adalah kebahagiaan yang lahir dari “kesedihan”.

Sedangkan bagi agama-agama samawi selain Islam, persoalan kebenaran terbentur pada ke-otentikan kitab suci (wahyu). Seharusnya yang dinamakan kitab suci adalah karena kitab itu dibuat langsung oleh Dzat yang Maha Suci. Jika sudah tercampuri dengan kreasi manusia (yang secara kodrati bukan makhluk suci) maka tentu saja kitab itu sudah tidak suci lagi. Ketidaksucian ini menyebabkan adanya ambiguitas dan kontradiksi kebenaran di dalam kitab itu. Dengan kata lain,  kitab itu tidak menyuguhkan kebenaran yang sesungguhnya. Itu juga berarti bahwa tidak ada kebahagiaaan hakiki yang bisa dijanjikan kepada manusia.

“Kebenaran” bagi agama-agama ardhi maupun kepercayaan adalah produk dari pergulatan panjang fikiran, indra, hati, imajinasi, dan intuisi manusia dalam menangkap setiap kejadian atau peristiwa di alam semesta. Salah satu yang membedakannya dengan filsafat adalah bahwa setiap agama ardhi maupun kepercayaan, mengharuskan adanya ritual-ritual khusus demi mendapatkan kebahagiaan. Tanpa ritual-ritual ini manusia takkan bisa memperoleh kebahagiaan.

Dengan demikian, Islam sebagai satu-satunya kebenaran yang ada dan tak terbantahkan, menjadikan semua pemeluknya berbakat untuk bahagia. Orang-orang yang mempunyai bakat bahagia ini, pasti menemukan kebahagiaannya. Hanya saja, kualitas kebahagiaan yang bisa mereka peroleh sangat bergantung pada pengolahan, pengembangan dan pengaktualisasian bakat bahagia yang ada pada diri mereka. wallahu a'lam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar