Tampilkan postingan dengan label artikel islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel islam. Tampilkan semua postingan

Sahabat Surga

Salah satu interaksi terindah antara sesama manusia sebagai makhluk sosial adalah persahabatan. interkasi ini kadangkala terjadi seperti  berjalannya jarum; menusuk namun dapat mengaitkan bagian-bagian yang terpisah atau terbelah.  Kadangkala seperti lilin; meleleh namun dapat menerangi kegelapan. Kadangkala juga seperti wedang kopi - susu; melarut, menyatu namun dapat memberikan kesegaran dan kenikmatan.

Bersahabat berarti membangun kedekatan dan keintiman dengan orang lain. Bersahabat berarti keputusan untuk saling kasih, saling percaya, saling peduli, dan saling memahami orang lain demi terciptanya  keharmonisan dalam hubungan persahabatan.

Oleh karena itu, keputusan untuk menjalin persahabatan dengan orang lain bukanlah sebuah keputusan sederhana dan bersifat spontan. Seseorang harus benar-benar mengetahui, siapakah sahabat itu? dan mengapa dia harus bersahabat?

Harmonisasi Keberanian

Tokoh-tokoh besar yang terukir dengan tinta emas dalam lembaran-lembaran sejarah selalu mempunyai deretan kisah menarik tentang keberanian yang tertanam dalam jiwa mereka. Tidak ada pergerakan hidup yang hebat tanpa ditopang keberanian yang kuat.  Tidak ada kegemilangan masa depan yang indah jika keberanian terkurung kurus dalam jeruji-jeruji jiwa.  Julius A cartage mengibaratkan keberanian sebagai serigala sedangkan ketakutan adalah mangsa. Shakespeare bahkan lebih tegas menyatakan :
“Para pengecut berkali-kali mati jauh sebelum kematiannya yang sesungguhnya, Sedangkan  pemberani hanya merasakan satu kali kematian saja.”  

Begitulah keberanian ketika menyapa jiwa yang dikehendakinya. Keberanian ibarat api yang dapat meluluh-lantakkan segala yang menghalanginya. Ia adalah vitamin mental yang ampuh dalam melecutkan semangat seseorang guna menghadapi segala resiko dan tantangan. Ia adalah dentum keras jiwa yang menggedor –gedor raga agar menjadi perkasa.

Berpisah Dalam Kedamaian

Ada pertemuan ada perpisahan.

Menurut saya, kalimat yang paling tepat untuk melengkapi kalimat diatas adalah bahwa "segala sesuatu yang ada di dunia ini tidak ada yang abadi". Ketidak-abadian ini bukanlah cacat, tetapi kesempurnaan. Sayangnya, Ketidakabadian dan perpisahan seringkali disikapi dengan kesedihan. Tak heran, jika bagi beberapa orang ketika kata perpisahan terlontar, seketika itu juga mata mereka berkaca-kaca. Dan hampir disetiap acara perpisahan selalu diiringi drama sedu sedan yang memilukan.

"Apa definisi pisah?"

Pisah secara bahasa berarti tidak saling menyatu, tidak berhubungan, tidak rapat (berjarak), atau tidak berdampingan. Api dan air adalah dua benda yang secara kodrati terpisah. Dengan kata lain, keberadaan kedua benda tersebut saling menafikan satu dengan lainnya sehingga tidak mungkin terjalin sebuah hubungan. Lain kasus antara air dan minyak, air bisa saling merapat dengan minyak, bisa saling berdampingan namun tidak bisa menyatu. Maka, air dan minyak adalah dua benda yang sama-sama cair namun saling memisahkan diri karena sebab-sebab yang tidak memungkinkan terjadinya penyatuan.


Kebenaran Menjanjikan Kebahagiaan

"Bagaimananakah gajah itu?" 

Ada tiga kelompok yang siap menjawab pertanyaan itu; yang pertama adalah kelompok orang-orang buta,kelompok orang-orang yang melihat tapi hanya dari sudut tertentu, dan yang ketigaadalah kelompok orang-orang yang melihat dari berbagai sudut.

Ternyata, jawabannya tidaklah sama. Perbedaan pendapat itu tidak hanya terjadi antar kelompok tapi juga antar individu dalam satu kelompok. Namun, mereka mampu menarik satu benang merah bahwa gajah adalah binatang yang berbadan besar, berhidung panjang dan bertelinga lebar. Kesimpulan ini lantas mereka yakini sebagai satu “kebenaran” (tentang gajah).

Semua orang ingin mengetahui kebenaran. Baik bagi dirinya sendiri maupun bagi kehidupan seluruhnya. Kebenaran diyakini sebagai sebuah kekuatan yang dapat memancarkan kebahagiaan. Kebenaran dan kebahagiaan ibarat dua gambar dalam satu keping uang logam. Tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Melekat, menjadi satu bagian yang berarti dan berharga.


Munajat Peleburan

Ya Allah, satu-satunya Pelindung dan Penolongku yang Teragung
Dari ketiadaan lalu hadirku
Dari kelemahan lalu kekuatanku
Dari kebutaan lalu pengelihatanku
Dari kegelapan lalu sadarku
Dari kotoran berlumpur lalu kesucianku
Agung...teramat agung perlindungan dan pertolonganMU, ya Allah...

Ya Allah, sematkan kemurnian iman dalam hatiku
hingga kehadiranMu adalah ketiadaanku
meleburkan kehinaanku
meleburkan ketakuatan-ketakutan jahiliyahku
meleburkan obsesi-obsesi liarku
meleburkan logika-logika syaithoniyah dungu
meleburkan thoghut-thoghut dalam jiwaku
dalam alamku ...
Ya Allah, jadikan suara jiwaku hanya murni ke-esaanMu

Munajat Sang Bayi

Ya Allah ... sang Penguasa jagad raya
Alam semesta berada dalam genggamanMu, tunduk dan patuh sesuai ketetapanMu
Tunduk dan patuh seraya bertasbih dan memujiMU
Senantiasa tepat, teratur, padu, rapi dan indah.
Ada gerakan, gesekan, percikan, benturan, perluasan, pengembangan bahkan ledakan, namun tak satupun yang menunjukkkan kekuranganMU, hanya pancaran keindahanMu, hanya keagungan kesempurnaanMu

Ya Allah ... telah engkau jadikan bumi sebagai hamparan, gunung-gunung sebagai pasak, langit sebagai atap tanpa tiang, lautan segar yang saling bertemu namun tidak tercampurkan, angin yang menyejukkan dan mengawinkan beberapa unsur alam, matahari dan bulan yang berjalan sesuai orbitnya. Ya Allah ... Begitu besar kekuasaanMU. Begitu besar nikmat dan karuniaMU

Sirkus Kecantikan

Setiap orang mempunyai dasar dan alasan sendiri ketika menilai kecantikan wanita. Seringkali penilaian mereka bersifat temporer dan sangat subyektif. Hari ini ia mengatakan si A cantik, tapi di lain hari ia justru menganggapnya buruk, jelek bahkan menjijikkan, dan begitu pula sebaliknya. Oleh karena itu, kecantikan wanita bersifat relatif.

Sudut pandang yang berbeda memvisualisasi obyek pandangan menjadi berbeda pula. Waktu, ruang, situasi, kondisi, pengetahuan dan pengalaman menjadi bahan yang tidak bisa dipisahkan dalam proses penilaian tersebut. Tidak hanya itu, peran industri kecantikan berupa perusahaan-perusahaan kosmetik, busana, asesoris, industri-industri yang menjual produk-produk perawatan tubuh, ditambah dengan dukungan media massa, telah menyandera kecantikan wanita dan turut menciptakan realtivitas kecantikan ditengah-tengah zaman modern.

Menghindari Bakhil

Bakhil kali pertama bersarang pada anak nabi Adam as yang bernama Qobil. Saat itu nabi Adam memerintahkan kedua putranya Qobil dan Habil bersedekah. Habil menyedekahkan hasil ternaknya yang terbaik, sedangkan Qobil justru sebaliknya, ia dengan sengaja menyedekahkan hasil pertaniannya yang terjelek. Tentu saja, Allah hanya mau menerima sedekah Habil, bukan Qobil. Hati qobil menjadi galau, iri dan dengki,  ia pun akhirnya membunuh saudara kandungnya tersebut.

Bakhil bukanlah akhlak tercela yang sepele. Sebaliknya, bakhil mempunyai efek negatif yang begitu besar  bagi kondisi kejiwaan, perekonomian, kesehatan dan daya berpikir penderitanya. Para penderita bakhil cenderung tidak bahagia, termarginalisasi dari realitas kehidupan sosial, menghilangkan keberkahan harta benda, dan menurunkan daya berfikir. Qobil memiliki kondisi kejiwaan yang buruk, ia begitu cemas, takut dan tidak percaya diri. Qobil tidak disukai Iqlimah dan saudara-saudara kandungnya yang lain. Qobil juga begitu bodoh ketika berinisiatif membunuh Habil.

Menikah itu Selalu Indah!

Menikah adalah pintu gerbang memasuki  “dunia baru”. Yaitu dunia pertarungan antara keyakinan dan fakta, antara  imajinasi dan realitas dengan dilandasi kesucian cinta sepasang kekasih. Kesucian cinta adalah satu-satunya jalan penghubung antara dunia baru tersebut dengan keindahan surgawi. Kesucian cinta ini juga yang menyulut api cemburu para bidadari surga.

Kesucian cinta sangat memahami bahwa tidak ada satupun manusia yang sempurna. Semua orang pasti mempunyai kekurangan dan kelebihan masing-masing.  kesucian cinta tidak akan memaksa kekasihnya menjadi seperti Khodijah atau Aisyah, sebelum ia bisa seperti Muhammad. Begitu pula sebaliknya, seorang isteri tidak akan memaksa suaminya menjadi seperti Muhammad, sebelum beragam hikmah dari kesucian cinta Khodijah atau Aisyah terpatri dalam dirinya.