Menghindari Bakhil

Bakhil kali pertama bersarang pada anak nabi Adam as yang bernama Qobil. Saat itu nabi Adam memerintahkan kedua putranya Qobil dan Habil bersedekah. Habil menyedekahkan hasil ternaknya yang terbaik, sedangkan Qobil justru sebaliknya, ia dengan sengaja menyedekahkan hasil pertaniannya yang terjelek. Tentu saja, Allah hanya mau menerima sedekah Habil, bukan Qobil. Hati qobil menjadi galau, iri dan dengki,  ia pun akhirnya membunuh saudara kandungnya tersebut.

Bakhil bukanlah akhlak tercela yang sepele. Sebaliknya, bakhil mempunyai efek negatif yang begitu besar  bagi kondisi kejiwaan, perekonomian, kesehatan dan daya berpikir penderitanya. Para penderita bakhil cenderung tidak bahagia, termarginalisasi dari realitas kehidupan sosial, menghilangkan keberkahan harta benda, dan menurunkan daya berfikir. Qobil memiliki kondisi kejiwaan yang buruk, ia begitu cemas, takut dan tidak percaya diri. Qobil tidak disukai Iqlimah dan saudara-saudara kandungnya yang lain. Qobil juga begitu bodoh ketika berinisiatif membunuh Habil.

Bahaya dari sifat bakhil ini dijelaskan dalam hadits nabi Muhammad SAW yang artinya:

 "Orang yang murah hati dekat dengan Allah, dekat dengan manusia, dekat dengan surga dan jauh dari neraka. Orang yang bakhil jauh dari Allah, jauh dari manusia, jauh dari surga dan dekat dengan neraka,
Orang bodoh yang murah hati lebih dicintai Allah daripada seorang ahli ibadah yang bakhil.”
(HR. Tirmidzi)

Dari penjelasan hadits diatas memberikan pemahaman kepada kita bahwa kemuliaan di sisi Allah dan manusia dapat kita peroleh manakala kita mampu mengikis habis sifat bakhil dalam diri kita. Sifat bakhil merupakan akhlaq tercela yang dapat mengeraskan hati seseorang sehingga ia tidak lagi memperdulikan orang-orang disekitarnya yang membutuhkan uluran tangan. Padahal dari segi prosentase, orang-orang yang hidup di bawah garis kemiskinan jauh lebih banyak ketimbang mereka yang hidup dalam kemapanan. Oleh karena itu sangatlah logis jika orang yang bakhil cenderung tidak mendapat tempat yang mulia di tengah-tengah realitas sosial.

Fachruddin Ar-Rozi, seorang pembaharu Islam di penghujung abad 6 hijriyah. Membedakan antara ambisius dan bakhil. Menurutnya, ambisius adalah usaha total untuk memperoleh kekayaan, ketika tidak ada atau jumlahnya sedikit. Sedangkan bakhil adalah usaha total untuk mempertahankan kekayaan ketika kekayaaan tersebut ada.

Dengan demikian, cinta harta terjadi dalam dua hal : Pertama, kesukaan untuk mengumpulkan dan menghasilkan harta yang disebut ambisius, dan kedua, kesukaan untuk mempertahankannya yang disebut bakhil. Ketika seseorang begitu ambisius memperoleh harta, maka sangatlah mungkin orang tersebut akan terjebak pada kebakhilan. sebab, bayang-bayang tentang susah payahnya mencari harta menyelimuti jiwanya, sehingga ada rasa “eman” jika harta yang sudah didapatkan dengan susah payah tersebut harus dikasihkan orang lain.

Ada beberapa cara agar sifat bakhil tidak bersarang pada diri kita, antara lain:

1. Meyakini bahwa hanya Allah-lah pemilik segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi (QS 3: 189)
2. Menjadikan harta sebagai alat untuk mencapai tujuan hidup dan bukan sebagai tujuan hidup itu  sendiri. (QS 3: 14)
3. Pandai bersyukur atas nikmat Allah (QS14:7)
4. Senantiasa memetik hikmah dari kehidupan orang-orang dhuafa' dan cacat

Kekasihku yakni Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah tujuh perkara padaku, (di antaranya): [1] Beliau memerintahkanku agar mencintai orang miskin dan dekat dengan mereka, beliau memerintahkanku agar melihat orang yang berada di bawahku (dalam masalah harta dan dunia), juga supaya aku tidak memperhatikan orang yang berada di atasku. …” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih)

“Apabila seorang melihat orang cacat lalu berkata (tanpa didengar oleh orang tadi) :“Alhamdulillah yang telah menyelamatkan aku dari apa yang diujikan Allah kepadanya dan melebihkan aku dengan kelebihan sempurna atas kebanyakan makhlukNya”, maka dia tidak akan terkena ujian seperti itu betapapun keadaannya.” (HR. Abu Dawud)

5. Mengetahui dan merasa takut dengan keburukan-keburukan sifat bakhil (QS 3:180)
 

Faiz Azh Zaffa (artikel ini pernah dimuat di Warta Surya Surabaya, dan pada 27-09-2014 telah di edit oleh penulis )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar