Menikah adalah pintu gerbang memasuki “dunia baru”. Yaitu dunia pertarungan antara keyakinan dan fakta, antara imajinasi dan realitas dengan dilandasi kesucian cinta sepasang kekasih. Kesucian cinta adalah satu-satunya jalan penghubung antara dunia baru tersebut dengan keindahan surgawi. Kesucian cinta ini juga yang menyulut api cemburu para bidadari surga.
Kesucian cinta sangat memahami bahwa tidak ada satupun manusia yang sempurna. Semua orang pasti mempunyai kekurangan dan kelebihan masing-masing. kesucian cinta tidak akan memaksa kekasihnya menjadi seperti Khodijah atau Aisyah, sebelum ia bisa seperti Muhammad. Begitu pula sebaliknya, seorang isteri tidak akan memaksa suaminya menjadi seperti Muhammad, sebelum beragam hikmah dari kesucian cinta Khodijah atau Aisyah terpatri dalam dirinya.
Oleh karena itu, tidak ada salahnya bagi yang lajang, yang akan menikah atau yang telah menikah agar memungut hikmah dari beberapa rumah tangga yang ada disekitar mereka. Bukan untuk dicari-cari kesalahannya, bukan untuk dipergunjingkan, bukan untuk dibanding-bandingkan, bukan pula untuk mengobok-obok privasi mereka. Tetapi untuk memperkaya diri dengan mutiara-mutiara hidup yang sangat dibutuhkan dalam pernikahan. Karena kebijaksanaan itu lahir dari kumpulan hikmah yang terhimpun dalam diri seseorang sehingga ia terdorong untuk mengejewantahkannya secara proporsional, tepat, dan indah.
Bagi para lajang, penting untuk mengetahui perbedaan antara menyegerakan menikah dan tergesa-gesa menikah. Menyegerakan menikah bagi yang telah mampu itu sunnah, sedangkan tergesa-gesa adalah prilaku setan. contoh: motor yang telah dinyalakan menjadi sulit dikendarai jika sang pengendara motor, tergesa-gesa menarik gas kencang bersamaan dengan memasukkan gigi, disamping itu motor juga gampang rusak. Namun, jika sang pengendara setelah memasukkan gigi lalu bersegera menarik gas dengan tenang dan santai, maka motor pun bisa melaju dengan nyaman.
Agar perbedaan menyegerakan dan tergesa-gesa semakin jelas, seseorang juga perlu merumuskan secara jelas tujuan dilangsungkannya sebuah penikahan :
1. Melengkapi agama >< melengkapi materi duniawi
2. Menjaga kehormatan >< menjaga gengsi diri
3. Mempunyai keturunan >< hanya untuk menyalurkan hasrat bologis
4. Membentuk peradapan >< hanya meningkatkan pertumbuhan penduduk
5. Mendapatkan ketenangan jiwa >< mendapatkan kesenangan jiwa
Dari uraian diatas dapat kita simpulkan bahwa untuk menjadikan pernikahan selalu indah adalah :
- Menjadikan pernikahan sebagai dunia baru untuk memperjuangkan keyakinan-keyakinan luhur kita ditengah-tengah realita kehidupan sehingga tercipta beragam kebaikan bersama pasangan.
- Kesucian cinta adalah landasan penting dalam mengarungi hidup bersama pasangan. Maksud dari kesucian cinta ini adalah cinta sepasang kekasih yang telah menikah itu telah tersucikan dengan pemahaman agama yang baik, berusaha mengamalkannya dengan baik pula dan senantiasa menjadikan Allah sebagai tujuan hidup.
- Senantiasa belajar dan memetik hikmah dari kehidupan para nabi, para sahabat, para salafus sholih dan orang-orang yang ada disekitar kita, agar tertanam kebijaksanaan ketika mengarungi bahtera rumah tangga.
- Mempunyai visi dan misi yang jelas dalam berumah tangga.
- Bagi para lajang yang telah mampu menikah sebaiknya segera menikah, jangan tergesa-gesa menikah dan jangan menunda-nunda menikah.
Menikah itu selalu indah, jika kita melihatnya menggunakan pengelihatan dzat yang Maha Indah. Menikah itu selalu indah, jika kita senantiasa memperjuangkan pernikahan itu semata-mata ingin mengharapkan ridho dari Dzat yang Maha Indah.
Wallahu a’lam bis showab.
Faiz azh-zaffa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar