Agus adalah seorang santri yang pernah menempuh pendidikan di pesanteren selama tiga tahun. Dikampungnya, Agus dikenal sebagai anak yang pintar, rajin beribadah, menurut sama orang tua, namun pendiam dan pemalu. Masyarakat sekitar juga tidak ada yang meragukan bahwa Agus adalah anak yang dermawan dan suka menolong orang lain.
Suatu ketika, Agus disuruh ketua takmir untuk menyampaikan ceramah di masjid ba'da sholat isya'. Agus menolak, tapi karena kegigihan ketua takmir dalam merayu dan beradu argumen dengan Agus, akhirnya Agus pun luluh.
Ketika adzan isya' telah berkumandang, Agus bergegas menuju ke masjid. ia duduk di shof pertama. seperti biasa, ia selalu berdzikir dan berdoa antara adzan dan iqomah. Ia tidak ingin menyia-nyiakan waktu-waktu mustajabah doa. Tak lama berselang, iqomah dikumandangkan. Agus disuruh menjadi imam oleh ketua takmir, tanpa banyak kata, Agus langsung maju dan memimpin sholat.
Selesai sholat, Agus naik mimbar dan berkata, "Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh"
Jama'ah menjawab: "Wa'alaikum salam warohmatullahi wa barokatuh"
Agus berkata: "Apakah kalian tahu apa yang akan saya sampaikan?"
Jama'ah menjawab: "Tidaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkk"
Agus: "Maaf, berat bagi saya menjelaskan jika kalian tidak mengetahui sedikitpun apa yang akan saya sampaikan. Wassalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh". Agus turun dari mimbar lalu ia bergegas pulang.
Kontan jama'ah menjadi heboh. Mereka tidak menyangka Agus ceramah sesingkat itu. Akhirnya, ketua takmir berunding dengan jama'ahnya, lalu mereka sepakat, jika Agus mengulang pertanyaan yang sama saat ceramah, maka mereka akan menjawab "tahu". Didorong oleh rasa penasaran, jama'ah pun meminta Agus ceramah lagi.
Agus: "Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh"
Jama'ah; "Wa'alaikum salam warohmatullahi wa barokatuh"
Agus: "Apakah kalian tahu apa yang akan saya sampaikan?"
Jama'ah: "Tahuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu"
Agus: "Buat apa saya ceramah kalau kalian sudah tahu. Wassalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh". Agus turun dari mimbar, lalu pulang.
Kehebohan berulang. Rundingan kedua pun dilaksanakan dan menghasilkan keputusan bahwa sebagian jama'ah menjawab "tidak" dan sebagiannya lagi menjawab "tahu".
Ketiga kalinya Agus naik mimbar.
Agus: "Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh"
Jama'ah: "Wa'alaikum salam warohmatullahi wa barokatuh"
Agus : "Apakah kalian tahu apa yang akan saya sampaikan?"
Jama'ah: "Tidaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkk". Sebagian jama'ah yang lain menjawab: "Tahuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu"
Agus: "Kalau begitu, yang sudah tahu silahkan memberitahu yang belum tahu. Wassalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh".
Jamaa'ah kesal. Tiga kali Agus naik mimbar, tiga kali itu pula mereka tertipu dengan pertanyaan yang sama. Akhirnya mereka berinisiatif untuk diam saja, tidak menjawab pertanyaan Agus. Mereka juga belum kapok. Mereka memaksa Agus ceramah sekali lagi.
Agus: "Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh"
Jama'ah; "Wa'alaikum salam warohmatullahi wa barokatuh"
Agus: "Apakah kalian tahu apa yang akan saya sampaikan?"
Sunyi. Tak ada jawaban sedikitpun. Agus mengulang pertanyaannya sampai tiga kali. Namun para jama'ah tetap bungkam.
Agus: "Mohon jangan tidur ketika ada orang yang ingin ceramah. Wassalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh".
Ketua takmir dan para jama'ah menyerah. Mereka janji tidak akan pernah menyuruh Agus ceramah lagi. Disitulah Agus merasa senang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar