Setiap anak terlahir atas dasar fitrah. Anak juga merupakan fitnah bagi kedua orang tua. Kehadiran anak dapat menjadi sebab melimpah ruahnya pahala, namun juga dapat menjadi sebab terjerumusnya seseorang dalam dosa dan kemaksiatan. Pola asuh orang tua dalam mendidik anak sangat berpengaruh besar dalam menjaga fitrah anak dan dalam membentuk akhlaq mereka menjadi lebih baik atau bahkan sebaliknya.
Luqman, orang sholeh yang namanya diabadikan dalam Al-Quran merupakan sosok orang tua yang sangat peduli dengan akhlaq anak, sehingga nasehat-nasehat beliau kepada anaknya menjadi rujukan bagi semua orang tua mukmin yang mendambakan keluhuran akhlak tertanam pada diri anak mereka.
Nasehat-nasehat Luqman, antara lain terdapat dalam Al-quran, surat Luqman ayat 13-19.
1. Memurnikan Tauhid dan menjauhi syirik.
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku sayang, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Lukman: 13).
Luqman, ketika menasehati anaknya, menggunakan tutur kata yang santun; “Ya bunayya” yang berarti “Hai anakku sayang”. Lalu dilanjutkan dengan larangan menyekutukan Allah. Dalam hal ini, Luqman mengajarkan kepada anaknya tentang kemurnian tauhid. Tauhid menjadi prioritas utama dalam membentuk akhlaq anak dan menjadi barometer baik-buruknya pribadi anak secara utuh. Tauhid yang kuat menjadikan kepribadian anak kuat pula. Tidak terperosok dalam sisi gelap informasi atau teknologi, tidak terhanyut dalam akulturasi budaya, dan tidak goyah dengan berbagai ujian atau musibah kehidupan.
2. Berbakti kepada kedua orang tua
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan” (QS. Lukman: 14-15).
Ibu dan bapak adalah golongan manusia kedua setelah para nabi dan rosul yang mendapatkan perlakuan istimewa dari seorang anak. Anak diwajibkan bertutur kata yang sopan kepada kedua orang tua, senantiasa ikhlas dalam membantu, menyayangi, dan mendoakan mereka. Senantiasa patuh pada kebenaran yang mereka ajarkan dan menolak dengan tegas (namun tetap santun) pada setiap ajakan dosa dan kemaksiatan.
Keluarga merupakan miniatur masyarakat. Apabila interaksi antara seorang anak dan kedua orang tuanya telah terbangun diatas dasar-dasar akhlaqul karimah, maka besar kemungkinan seorang anak juga dapat menujukkan akhlaq mulia kepada masyarakat sekitar.
3. Mendirikan sholat, beramar makruf nahi anil munkar dan bersabar.
“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)” (QS. Lukman: 17).
Asy-Syaukani rahimahullah menjelaskan bahwa tiga ibadah ini yang menjadi wasiat Luqman untuk anaknya, karena tiga ibadah ini adalah induknya ibadah dan landasan seluruh kebaikan. (Lihat Fathul Qodir, 5: 489).
4. Menumbuhkan sikap Tawadhu (rendah hati).
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri” (QS. Lukman: 18).
Manusia itu hanyalah kawulo alit (golongan kecil) disisi Allah, maka sudah sewajarnya jika yang kecil harus tunduk-patuh kepada yang Maha Besar. Manusia bisa menjadi besar, hebat, top, dan populer hanya dikalangan sesama manusia dan semua itu terbatas. Jika manusia mencoba melewati batas, maka ia akan hancur. Sedangkan yang membuat manusia sadar akan batas-batas itu adalah kerendahan hatinya (sifat tawadhu’).
Oleh karena itu, Tawadhu’ merupakan sifat yang menggabungkan secara harmonis antara sisi vertikal dan horisontal. Sisi vertikal berarti seorang hamba dapat mensucikan dan mengagungkan Allah dalam hati dan perbuatannya. Sedangkan sisi horisontal berarti menumbuhkan sikap andap ashor, welas asih dan tepo sliro antara sesama manusia, tanpa dibumbuhi dengan benih-benih kesombongan. Orang yang tawadhu' juga mempunyai kepedulian yang besar terhadap alam; merawat, melestarikan serta melindungi alam dari segala bahaya dan kerusakan.
Apabila sifat tawadhu’ ini terbentuk dengan baik dalam diri anak, maka poin penting dalam pembentukan akhlaq anak telah terbangun.
5. Setiap perbuatan mempunyai konsekuensi.
“Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui” (QS. Luqman: 16).
Luqman hendak mengajarkan kepada anaknya bahwa setiap perbuatan mempunyai konsekuensi kepada si pelaku, baik langsung atau tidak langsung. Setiap perbuatan baik mendatangkan kebaikan bagi si pelakunya, begitu juga sebaliknya.
Sebagaimana peribahasa mengatakan “siapa yang menanam, dialah yang menuai”
Dengan demikian, lima nasehat Luqman tersebut mempunyai implikasi yang besar dalam pembentukan akhlak anak. Semakin dini nasehat-nasehat tersebut diajarkan kepada anak (disesuaikan dengan jenjang umur anak), maka insya Allah semakin bagus pula akhlaq mereka dikemudian hari.
Wallahu a’lam
170315. 23:28
Tidak ada komentar:
Posting Komentar