Menghindari Bakhil

Bakhil kali pertama bersarang pada anak nabi Adam as yang bernama Qobil. Saat itu nabi Adam memerintahkan kedua putranya Qobil dan Habil bersedekah. Habil menyedekahkan hasil ternaknya yang terbaik, sedangkan Qobil justru sebaliknya, ia dengan sengaja menyedekahkan hasil pertaniannya yang terjelek. Tentu saja, Allah hanya mau menerima sedekah Habil, bukan Qobil. Hati qobil menjadi galau, iri dan dengki,  ia pun akhirnya membunuh saudara kandungnya tersebut.

Bakhil bukanlah akhlak tercela yang sepele. Sebaliknya, bakhil mempunyai efek negatif yang begitu besar  bagi kondisi kejiwaan, perekonomian, kesehatan dan daya berpikir penderitanya. Para penderita bakhil cenderung tidak bahagia, termarginalisasi dari realitas kehidupan sosial, menghilangkan keberkahan harta benda, dan menurunkan daya berfikir. Qobil memiliki kondisi kejiwaan yang buruk, ia begitu cemas, takut dan tidak percaya diri. Qobil tidak disukai Iqlimah dan saudara-saudara kandungnya yang lain. Qobil juga begitu bodoh ketika berinisiatif membunuh Habil.

Menikah itu Selalu Indah!

Menikah adalah pintu gerbang memasuki  “dunia baru”. Yaitu dunia pertarungan antara keyakinan dan fakta, antara  imajinasi dan realitas dengan dilandasi kesucian cinta sepasang kekasih. Kesucian cinta adalah satu-satunya jalan penghubung antara dunia baru tersebut dengan keindahan surgawi. Kesucian cinta ini juga yang menyulut api cemburu para bidadari surga.

Kesucian cinta sangat memahami bahwa tidak ada satupun manusia yang sempurna. Semua orang pasti mempunyai kekurangan dan kelebihan masing-masing.  kesucian cinta tidak akan memaksa kekasihnya menjadi seperti Khodijah atau Aisyah, sebelum ia bisa seperti Muhammad. Begitu pula sebaliknya, seorang isteri tidak akan memaksa suaminya menjadi seperti Muhammad, sebelum beragam hikmah dari kesucian cinta Khodijah atau Aisyah terpatri dalam dirinya.


Siapakah Pahlawannya?

Dalam sebuah hutan, hiduplah seekor Beruang yang baru saja dinobatkan sebagai raja hutan. Beruang yang masih sangat muda ini, mempunyai semangat yang menggelora untuk mengantarkan rakyat kepada kesejahteraan. Kegigihan dan keteguhannya dalam memperjuangkan nasib rakyat, ditambah dengan senyuman khas yang tersimpul dari kedua bibirnya, membuat rakyat semakin simpatik dan menghormatinya. Bangunan-bangunan indah dan kokoh berhasil ia dirikan, berbagai sarana dan fasilitas demi menunjang kreativitas rakyatnya, telah ia sediakan. Rakyat hidup dalam kemakmuran dan kesejahteraan.

Namun, ketika sang Raja mulai tua, Ia banyak berfikir tentang kesejahteraan dirinya. Ketika Ia berhasil mengetahuinya, sang Raja menjadi berubah. Ia tidak lagi menghiraukan rakyatnya, Ia menjadi congkak dan otoriter. Ia juga menggotong harta rakyat untuk kepentingan pribadinya. Rakyat terlilit hutang, rakyat hidup miskin, rakyat hidup dalam kecemasan dan ketakutan. Ketika salah satu diantara rakyatnya bertanya,
"Kenapa anda melakukan hal ini?"
Raja hanya menjawab, "Karena aku adalah BERUANG...!"